Manual vs Digital

Menggunakan cara manual maupun digital dalam membuat sebuah karya memang merupakan pilihan dan tergantung selera desainer. Ada yang memanfaatkan salah satu, atau bahkan keduanya sekaligus. Pilihan itu kini menjadi berat sebelah, condong kearah digital. Hal ini tak lepas juga dengan semakin pesatnya perkembangan  teknologi,  khususnya teknologi desain. Teknologi digital seolah menjadi sebuah kebutuhan.

Munculnya teknologi digital ini di satu sisi mempermudah desainer dalam membuat desain. Di sisi lain, kemudahan tersebut juga menjadi bumerang, memicu desainer menciptakan karya-karya yang terkesan kurang matang atau instan. Saat ini bagaimana pendapat desainer-desainer  Skawan mengenai hal ini ya?

Dengan kemajuan teknologi saat ini terutama teknologi alat desain digital yang semakin bisa mendekati aslinya (manual), apakah pembuatan desain dengan peralatan manual masih dibutuhkan?

Erik: Pasti butuh, karena itu dasarnya. Orang yang bisa manual pasti bisa digital, tapi yang digital belum tentu bisa nggambar secara manual. Buat mengkonsep desain baik itu logo ataupun poster kan lebih enak digambar manual. Sebenarnya tergantung orangnya juga, kalo saya memang lebih suka pakai manual.

Rijal: Masih butuh sebenarnya. Tapi saya pribadi sih lebih suka pakai digital. Memang lebih nyaman kalau di kertas, tapi lebih efisien pakai digital.

Relyv:  Masih butuh sih untuk desain awal atau sketsa pakai cara manual. Tapi kalau saya lebih enak menggunakan teknologi digital.

Kapan saja anda mengunakan cara manual maupun digital serta proporsi masing2 dalam merealisasikan konsep desain?

Rijal: Kalau saya pribadi jarang pakai manual, karna kalau salah nggak bisa diperbaiki. Tapi memang tidak bisa dipugkiri kalau  manual itu hasilnya bisa lebih bagus, hanya saja nggak efisien dan jadi kerja dua kali. Tapi itu semua tergantung kebutuhan teknisnya juga.

Erik: Kondisional sih, biasanya kalau sudah suntuk pakai alat digital waktu bikin desain, pakai manual pasti nemu. Kalau buat sketch awal pakai manual terus baru finishingnya pakai digital.

Relyv: Saya lebih banyak pakai digital. Beda sama erik, kalau saya ide-ide bisa keluar kalau pakai digital. Kadang ide awal pakai sketsa manual, buat finishingnya pakai digital.

Bagaimana mempertahankan kualitas desain anda ditengah tuntutan persaingan yang semakin sengit ?

Relyv: Harus punya cirik has atau keunikan. Itu dibutuhkan untuk menghadapi persaingan yang makin sengit.

Rijal: Lebih ke adaptif aja. Balik lagi ke prinsip, kita juga tetap mengikuti klien  selama kliennya masih tau batas, masih bisa ditolerir, nggak minta yang aneh-aneh dan keterlaluan.

Eric:  Meski kita punya idealis atau ciri sendiri tapi tetap tidak mengabaikan keinginan klien juga tentunya.

Menurut  anda teknologi alat desaine digital ini memang merupakan sebuah kebutuhan atau kebutuhan yang direkayasa  dan menciptakan ketergantungan kepada penggunannya demi kepentingan kapitalisme?

Erik: Pada  akhirnya ini jadi kebutuhan, teknologi digital jadi sebuah budaya. Karena tuntutan jaman, jadi mau nggak mau kita pakai digital juga kalau nggak mau tertinggal dibelakang.

Rijal: Ini kebutuhan yang dibuat. Tapi mau nggak mau akhirnya kita harus mengikuti jaman, mau nggak mau kita harus mengikuti pasar juga dengan menggunakan teknologi digital.

Relyv: Menurut saya itu kebutuhan. Karna teknologi digital merupakan alat yang digunakan untuk merealisasikan konsep atau ide sebuah desain.

Alat desain digital dibuat untuk mempermudah pengunanya dalam membuat desain namun karna kemudahannya itu juga bisa memicu desainer menciptakan karya-karya yang terkesan kurang matang atau instan. Bagaimana anda menyikapi hal tersebut?

Erik: Balik lagi ke penggunanya. Teknologi digital kan cuma alat yang fungsinya mempermudah atau membantu, tinggal gimana penggunanya memanfaatkan alat tersebut.

Rijal: Sense, itulah yang membedakan “tukang photoshop” sama desainer. Baik manual ataupun digital itu kan alatnya, yang terpenting  the man behind the gun, hahaha…